Minggu, 19 Juni 2011

Leave the "comfort zone"

Ini adalah catatan yang terpendam di blog ini. Masih jadi draft karena tak kunjung layak publish bagi saya. Karena saya masih bingung dengan apa yang menjadi pesan dalam catatan saya ini, maka akhirnya tergeletak di draft blog saya.

Kali ini saya akan sedikit mengulas tentang "comfort zone", yang bagi saya bisa menjadi halusinasi yang melenakan. Comfort zone menurut bahasa saya adalah situasi dan kondisi dimana kita merasa aman dan nyaman. Aman dan nyaman dari kondisi finansial, keluarga, posisi/jabatan, hubungan/relasi, konflik dan lain sebagainya. Pokoknya kita udah merasa paling settle dengan kehidupan kita. Uang cukup, kerjaan lumayan, hidup sudah baik, seperti itulah kira-kira.


Padahal secara naluriah dalam diri kita sudah ditiupkan "kegelisahan" setiap waktu. Bayangkan waktu sekolah atau kuliah dulu, kita akan gelisah saat menghadapi ujian kelulusan atau sidang tugas akhir. Gelisah saat belum punya penghasilan. Kegelisahan juga muncul pada orang tua yang memikirkan masa depan anaknya. Bahkan yang lebih ekstrim, kegelisahan bagaimana menghadapi hari esok, besok mau makan apa, besok kalau diusir dari rumah kontrakan mau tinggal dimana, mau berobat tapi nggak punya uang, bayar sekolah anak, beli susu dan banyak lagi. Sejatinya kita selalu dihantui "kegelisahan".

Hubungan Comfort zone dan kegelisahan ini ibarat Demand dan Supply kalau bahasa ekonominya. Kalau kegelisahan ini menurun/ sedikit maka comfort zone kita akan meningkat, artinya kita akan merasa sudah nyaman dengan kondisi itu. Sebaliknya jika kita merasa Gelisah terus menerus maka artinya kita belum berada di zona nyaman kita (Comfort Zone).

Menariknya, banyak orang yang mengejar zona nyamannya sampai benar-benar sampai dengan apa yang diinginkan. Namun ada juga orang yang malah terbalik, merasa harus keluar dari zona nyaman tersebut. Lho kok ada ya orang seperti itu? hehe. Iya, beneran. Kadang seseorang dengan kegelisahannya mencapai comfort zone mempunyai spirit yang tinggi. Semangat, gairah, pantang menyerah kerap menjadi pemacu untuk mencapai zona nyaman tersebut. Namun pada saat dia sudah mencapai zona nyaman semua semangat itu akan memudar. Terus memudar dan bisa hilang.

"Mau apa lagi? udah enak kok. Semua sudah didapat." Mungkin seperti itu kalau orang yang sudah mencapai comfort zone nya. Namun bagi segelintir orang hal itu malah menjadi halusinasi sesaat. "What next?" itu yang menjadi pertannyaan bagi mereka. Mereka merasa mereka belum mencapai maksimum potensi mereka di zona nyaman tersebut. Makanya mereka sering keluar dari zona nyaman untuk terus  berkembang dan menggali potensi mereka secara maksimal. Keluar dari comfort zone membuatnya terus belajar dan memperbaiki diri.

Yang perlu digaris bawahi disini bahwa mereka yang keluar dari zona nyaman adalah mereka yang mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan. Bukan mereka yang lari ketika tantangan - tantangan tersebut menghampiri mereka. Sehingga mereka menjadi semakin kuat dan semakin tangguh.

#catatanbuatpribadi
Come on Gie break the comfort zone!!!

5 Comments:

  1. :(( udah sepanjang panjang itu lu kagak ngerti juga ji?
    Ckckck... gw juga bingung, hehe
    :D

    BalasHapus
  2. kalau catatan buat pribadi, ngapain di pampang di sini..
    mending lu tulis aja di karton gede-an trus lu tempel dilangit2 kamar lu, jadi setiap lu mo tidur bisa baca tuh tulisan....

    BalasHapus
  3. suka suka gue, blog blog gue,
    (ngutip dari bang Budiman hakim MACS909)
    :~

    BalasHapus